RSS

Tauhid vs Syirik

05 Agu

Pertama-tama, marilah kita tingkatkan kualitas taqwa kita pada Allah dengan berupaya maksimal melaksanakan apa saja perintah-Nya yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul saw. Pada waktu yang sama kita dituntut pula untuk meninggalkan apa saja larangan Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul Saw. Hanya dengan cara itulah ketaqwaan kita mengalami peningkatan dan perbaikan….

Selanjutnya, shalawat dan salam mari kita bacakan untuk nabi Muhammad Saw sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an :

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas Nabi (Muhammad Saw). Wahai orang-orang beriman, ucapkan shalawat dan salam atas Nabi (Muhammad) Saw. (QS. Al-Ahzab [33] : 56)

Terlepas dari manapun asal-usulnya, maka setiap pergantian tahun Masehi tiba, umat Islam yang konsisten terhadap agamanya menghadapi berbagai hal yang dilematis di negerinya sendiri. Mereka seakan digiring melakukan berbagai kegiatan yang biasa dilakukan oleh kaum Kristiani. Lebih dari itu, bisa saja mereka dituduh tidak toleransi jika mereka menolak dan mengkritisi berbagai kegiatan yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Tauhid yang mereka yakini seperti, mengucapkan selamat natal, menyalakan lilin, melakukan pesta dan perayaan pergantian tahun baru Masehi sambil menyalakan kembang api, begadang semalam suntuk di jalanan, di tempat-tempat hiburan, di lapangan, di tepi pantai menunggu saat pergantian tahun baru Masehi dan tak jarang pula dilakukan sambil pesta seks dan mabuk-mabukan.

Para ulama dan berbagai ormas Islam lumpuh dan tidak berdaya menghadapi serangan badai budaya dan kegiatan agama lain terhadap umat Islam yang sudah berjalan puluhan tahun. Sepuluh tahun terakhir, khususnya sejak reformasi, serangan tersebut semakin menggila dan seakan tidak terbendung lagi. Faktanya, puluhan ribu manusia yang berkumpul di berbagai tempat pesta malam tahun baru Masehi adalah sebagian besarnya umat Islam. Puluhan ribu yang memadati jalan-jalan raya, sebagian besar mereka adalah kaum Muslimin. Puluhan ribu yang meniup terompet dan memyalakan kembang api di malam tahun baru Masehi, mayoritasnya adalah kaum Muslimin. Puluhan ribu manusia yang berjubel di berbagai tempat, pantai, puncak gunung dan lapangan sambil bersorak sorai saat malam pergantian tahun baru Masehi tiba adalah mayoritasnya umat Islam. Tahun demi tahun, intensitas merayakan tahun baru Masehi dan keterlibatan umat Islam di negeri yang mayoritas Muslim ini semakin tinggi dan semakin bebas. Ajaran Islam sudah tidak lagi dilibatkan dalam menilai dan menimbang aktivitas yang mereka lakukan.

Lebih ironis lagi, sebagian ulama atau tokoh Islam memberikan green light dan pembenaran terhadap fenomena yang bertentangan dengan Islam tersebut. Demikian juga Pemerintah seakan menyerukan agar semua bangsa yang ada di negeri ini, apapun agama mereka, khususnya kaum Muslimin, harus merespon positif terhadap apa yang sudah menjadi budaya dan tradisi umat Kristiani itu. Umat Islam dicekoki dengan berbagai doktrin dan pemahaman sesat agar mereka menerima dan menyambut gembira apa yang dilakukan umat lain, kendati nyata-nyata bertentangan dengan ajaran dasar agama mereka. Di antara doktrin sesat tersebut ialah : agama itu sama, toleransi beragama, boleh mengucapkan selamat tahun baru dan sebagainya. Kalau tidak setuju dan mendukung, bisa dituduh dengan berbagai tuduhan dan berbagai label negatif seperti fundamentalis, ektrimis, fanatik, tidak toleran dan bahkan bisa juga sebagai teroris.

Allah menurunkan Islam sebagai agama Tauhid. Tauhid ialah, megesakan Allah dalam ketuhanan Rububiyyah (penciptaan dan perbuatan), Uluhiyyah (ibadah dan sistem hidup) dan dalam Al-Sama’ wa Ash-shifat (nama-nama dan sifat). Sebab itu, pengertian kalimat Tauhid/Syahadat : لا اله الا الله adalah : Tidak ada tuhan apapun di dunia yang berhak disembah, ditaati, dikagumi, dibesarkan dan dicintai selain Allah. Hanya Allah sajalah yang berhak disembah dan di taati. Karena Dialah yang meciptakan manusia dan alam semesta ini. Sebab itu, semua sistem hidup yang Dia ciptakan untuk manusia terjamin kecanggihan dan kebaikannya untuk manusia di dunia dan juga di akhirat.

Adapun Syirik ialah, meyakini ada tuhan lain yang berhak disembah, ditaati, dikagumi, dicintai dan dibesarkan selain Allah. Apapun jenis dan bentuknya, apakah tuhan tersebut patung yang diukir, nabi, orang shaleh, makhluk halus dan sebagainya. Bila ada keyakian dalam diri seseorang bahwa ada tuhan lain selain Allah, baik disembah langsug ataupun tidak langsung seperti hanya untuk wasilah (perantara), maka keyakinan tersebut disebut “SYIRIK”. Artinya penyertaan tuhan lain dengan tuhan Allah. Keyakinan seperti itu sudah tidak Tauhid lagi dan sudah tercampur dengan syirik atau kemusyrikan.

Sebab itu, Tauhid itu adalah lawan atau versus Syirik. Tauhid yang diajarkan Islam yang dibawa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sama dengan Tauhid yang diajarkan Ibrahim ‘alaihissalam. Tauhid yang terbebas dari syirik atau menyekutukan Allah dengan apapun dan dengan siapapun. Tauhid yang mengajarkan penganutnya agar mengesakan Allah dalam keyakinan, dalam ibadah, dalam sistem kehidupan, dalam budaya, dalam mu’amalah dan dalam akhlak.

Seperti itulah ajaran Tauhid yang datang dari Allah. Di luar itu, berarti datang dari manusia. Tauhid yang datang dari Allah adalah yang logis dan dapat diterima akal sehat. Sedangkan yang datang dari manusia adalah yang sulit dipahami akal sehat kecuali dengan mematikan daya nalar itu sendiri.

Keajaiban penciptaan Isa yang tanpa bapak itu tidak logis menjadi sebab ia berhak dipertuhankan. Jika demikian logikanya, kenapa tidak nabi Adam yang lebih berhak dijadikan tuhan pendamping Allah? Bukankah Adam lahir tanpa bapak dan ibu? Allah berfirman :

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آَدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa itu di sisi Allah sama dengan perumpamaan (penciptaan ) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudia Dia berkata : Jadilah. Maka jadilah ia (Adam). (QS. Ali Imran [3] : 59)

Sebab itu, tidak ada yang istimewa dan yang sangat menakjubkan dari penciptaan Isa itu di sisi Allah. Pencinptaan Isa di sisi Allah sama saja dengan penciptaan Adam. Sebab itu, tidaklah pantas dan tidak logis apabila Isa dinobatkan atau diakui sebagai Tuhan yang disekutukan dengan Allah. Apalagi disebut sebagai anak Allah. Keyakinan dan ungkapan kemusyrikan tersebut amatlah membuat Allah menjadi murka.

Akibat keyakinan dan ucapan kemusyrikan itu, bukan saja Allah yang marah dan murka, akan tetapi, langit, bumi dan gunungpun ikut memprotes dan marah disebabkan ulah manusia yang menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya dan tidak ada kemungkaran yang melebihi dari menuduh Allah memiliki anak. Allah berfirman :

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آَتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا (93) لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا (94) وَكُلُّهُمْ آَتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا (95)

Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak (88) Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, (89) hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, (90) karena mereka menyebut Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak (91) Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. (92) Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. (93) Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. (94) Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. (95) (QS. Maryam [19] : 88–85)

Maka Tauhid yang datang dari Allahlah yang akan mendapatkan kecintaan dan keridhaan-Nya. Sedangkan keyakinan apapun yang datang dari hasil rekaan manusia tidak mendapatkan kecintaan dan keridhaan Allah, karena berlawanan dengan keinginan dan kehendak-Nya.

Sebagai Nabi dan Rasul terakhir, Allah menjelaskan kepada Muhammad shallallhau ‘alaihi wasalam penyimpangan akidah dan keyakinan Ahlul Kitab dan sumber penyimpangan itu, seperti yang difirmankan-Nya :

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (30) اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (31)

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah.” Demikian itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka , bagaimana mereka sampai berpaling (dari Tauhid)? (30) Mereka juga menjadikan orang-orang alim (ulama) dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (31) (QS. At-Taubah [9] : 30–31)

Sebagai Rasul terakhir, Allah memerintahkan Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam untuk mengajak manusia, termasuk Ahlul Kitab, Yahudi dan Nasrani untuk mengoreksi dan meluruskan pemahaman akidah dan keyakinan mereka yang sudah menyimpang dari Tauhid yang dibawa oleh para nabi Mereka sendiri.

Allah mengajarkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar Tauhid yag datang dari Allah dan yang dibawa oleh para nabi dan Rasul-Nya, khususnya Ibrahim, harus diperkenalkan kepada semua umat manusia, khususnya kaum Ahlul Kitab, yakni Yahudi dan Nasrani agar mereka selamat dan terhindar dari prilaku menyekutukan Allah dengan manusia yang bernama Uzair dan Isa ‘alaihimassalam. Mereka itu tak lebih dari hamba yang Allah cintai dan sebagai Nabi yang mengajarkan Tauhid kepada manusia.

Sebab itu, sebagai umat Nabi Muhammad, kitalah yang berhak memperkenalkan dan menawarkan Tauhid yang benar itu kepada Ahlul Kitab itu, Yahudi dan Nasrani. Namun yang terjadi di negeri ini justru sebaliknya; merekalah yang giat mengenalkan kemusyrikan, ibadah, budaya, akhlak dan muamalah yang menyimpang itu kepada kita. Kalau kondisi seperti ini terus berlanjut, maka tunggulah kemarahan dan kemurkaan Allah turun pada kita sebagaimana dulu pernah turun kepada mereka. Allah berfirman :

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (64) يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ إِلَّا مِنْ بَعْدِهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (65) هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (66) مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (67) إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ (68) وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (69) يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ (70) يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (71) وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آَمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آَمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آَخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (72) وَلَا تُؤْمِنُوا إِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِينَكُمْ قُلْ إِنَّ الْهُدَى هُدَى اللَّهِ أَنْ يُؤْتَى أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُوتِيتُمْ أَوْ يُحَاجُّوكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (73) يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (74) وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (75) بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ (76) إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (77)

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah kecuali Allah saja dan kita tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Muslim (berserah diri hanya kepada Allah) (64) Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? (65) Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (66) Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus (akidahnya) lagi seorang Muslim dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. (67) Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad/umat Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (68) Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya. (69) Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya)? (70) Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya? (71) Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran). (72) Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu.” Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”; (73) Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah mempunyai karunia yang besar (74) Di antara Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: “tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi (bodoh). Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (75) (Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (76) Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih. (77) (QS. Ali Imran [3] : 64–77)

Demikianlah CATATAN ini, semoga Allah memelihara iman kita dan umat kita dari serangan kemusyrikan, ibadah, akhlak dan budaya menyimpang yang sedang melanda negeri ini. Semoga Allah anugerahkan kesempatan kembali kepada Tauhid dan keimanan bagi saudara kita yang terlanjur terbawa arus kemusyrikan dan berbagai bentuk penyimpangan. Dialah tempat kita meminta dan Dia jua tempat kita memohon perlindungan. Semoga Allah berkenan menghimpunkan kita di syurga Al-Firdaus Al-A’la yang paling tinggi bersama Rasul Saw, para shiddiqin, syuhada’, dan shalihin sebagaimana Allah himpunkan kita di tempat yang mulia ini. Allahumma amin…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 5, 2011 in Media Islam

 

tanggapan anda tentang blog ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: